sejarah krisis finansial 2008

melacak satu kegagalan kredit hingga ke jatuhnya ekonomi dunia

sejarah krisis finansial 2008
I

Pernahkah kita meminjam uang dari teman dan berjanji akan mengembalikannya minggu depan? Rasanya biasa saja, bukan? Tapi mari kita bayangkan skenario yang sedikit berbeda. Bayangkan ada seseorang di ujung dunia sana—sebut saja John, seorang pekerja serabutan di Amerika Serikat—yang baru saja ditawari kredit rumah bernilai miliaran rupiah. Padahal, bank tahu persis John tidak punya slip gaji tetap dan riwayat tabungannya buruk. Anehnya, bank tetap memberikan uang itu. Lebih aneh lagi, tanda tangan John di atas kertas kredit itulah yang beberapa tahun kemudian membuat tetangga kita di Indonesia mendadak kehilangan pekerjaannya. Kedengarannya seperti naskah film tentang butterfly effect, ya? Namun, teman-teman, ini bukan fiksi. Ini adalah sejarah nyata. Ini adalah cerita tentang bagaimana satu keserakahan kecil yang ditumpuk berulang kali berhasil meruntuhkan urat nadi ekonomi seluruh dunia pada tahun 2008.

II

Untuk memahami kekacauan berskala epik ini, kita harus masuk ke dalam psikologi dasar manusia: rasa ingin memiliki dan ilusi kendali. Di awal era 2000-an, memiliki rumah adalah puncak impian semua orang. Para jenius di Wall Street melihat celah psikologis ini sebagai peluang emas. Mereka mulai menciptakan produk ajaib bernama subprime mortgage, yakni KPR yang sengaja diberikan kepada orang-orang dengan riwayat kredit buruk. Secara logika finansial dasar, meminjamkan uang dalam jumlah besar kepada orang yang tidak bisa membayar adalah sebuah kebodohan. Tapi bank-bank ini merasa sangat pintar. Mereka tidak menyimpan hutang berisiko itu sendirian. Mereka mengumpulkan ribuan hutang buruk ini, mencampurnya menjadi satu, lalu membungkusnya dalam sebuah paket investasi baru yang terlihat mewah dan rumit. Paket ini punya nama keren: Collateralized Debt Obligation atau CDO. Di sinilah mesin kiamat finansial itu mulai dirakit. Para bankir menjual paket hutang ini ke investor di seluruh dunia. Seolah-olah, mereka sedang menjual kotak brankas berisi emas murni, padahal isinya adalah bom waktu yang detakannya mulai terdengar.

III

Sekarang kita mungkin bertanya-tanya, kalau isinya bom waktu, kenapa investor cerdas dari Eropa, Asia, hingga Timur Tengah berebut membelinya? Di sinilah elemen paling gila dari sejarah ini muncul. Di dunia keuangan, ada lembaga penilai rating yang tugasnya mirip guru yang memberi nilai rapor. Lembaga ini memberikan stempel AAA—nilai tertinggi, teraman, dan nyaris mustahil gagal—pada paket investasi yang isinya kumpulan kredit macet tadi. Kenapa mereka mau berbohong? Dalam psikologi perilaku, ini disebut incentive-caused bias. Lembaga penilai ini dibayar oleh bank yang membuat paket tersebut. Jika mereka memberi nilai buruk, bank akan lari ke lembaga penilai lain. Jadi, selama semua pihak mendapat bonus miliaran dolar, tidak ada yang mau menyalakan lampu peringatan. Pesta sedang berlangsung dengan sangat meriah. Harga rumah meroket tajam. Orang-orang membeli dua hingga tiga rumah untuk spekulasi. Namun, di balik tirai pesta pora itu, ada sebuah pertanyaan besar yang sangat mengerikan: apa yang akan terjadi ketika suku bunga bank sentral akhirnya naik, dan orang-orang seperti John benar-benar tidak sanggup membayar cicilan bulanannya? Kapan ilusi raksasa ini akan meledak di depan wajah kita semua?

IV

Jawabannya datang pada tahun 2007, dan puncaknya menghancurkan dunia di pertengahan 2008. Suku bunga bank sentral akhirnya naik. Cicilan rumah jutaan orang tiba-tiba melonjak drastis tak terkendali. Sesuai prediksi akal sehat yang selama ini diabaikan, mereka gagal bayar secara massal. Rumah-rumah disita oleh bank. Tiba-tiba, pasar dibanjiri oleh jutaan rumah kosong yang dijual bersamaan, membuat harga properti terjun bebas. Ingat paket investasi CDO berstempel AAA yang dibeli oleh investor seluruh dunia tadi? Nilainya langsung hangus menjadi nol. Pasar finansial global langsung diserang kepanikan massal atau herd panic. Bank-bank raksasa mendadak tidak mau saling meminjamkan uang karena mereka tidak tahu bank mana yang menyimpan "paket sampah" paling banyak. Sistem sirkulasi darah ekonomi dunia mendadak berhenti berdenyut. Puncaknya terjadi pada September 2008. Lehman Brothers, bank investasi raksasa yang sudah berdiri kokoh lebih dari satu abad, menyatakan bangkrut. Hari itu, layar bursa saham di seluruh penjuru bumi memerah. Jutaan orang yang tidak tahu apa-apa tentang KPR di Amerika, dari buruh pabrik di Tiongkok hingga pegawai kantoran di Jakarta, tiba-tiba di-PHK karena perusahaan mereka tidak bisa lagi mendapat pinjaman modal dari bank yang sedang sekarat.

V

Tragedi krisis finansial 2008 mengajarkan kita satu pelajaran brutal namun sangat penting tentang betapa terhubungnya dunia kita. Kegagalan ini bukan sekadar masalah grafik merah di layar komputer Wall Street. Ini adalah kisah tragis tentang manusia. Ada trauma psikologis dan air mata dari jutaan keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan tabungan pensiun mereka, murni karena keserakahan segelintir elit finansial yang merasa bisa mengakali matematika. Saat kita belajar membedah sejarah ini bersama-sama, saya ingin mengajak teman-teman untuk terus mengasah nalar kritis kita. Sistem ekonomi yang terlihat sangat rumit dan penuh jargon asing itu, pada dasarnya tetap dibangun di atas emosi manusia: kepercayaan, ketakutan, dan keserakahan. Kita mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tapi dengan memahami bagaimana satu rantai kebohongan kecil bisa menenggelamkan ekonomi global, kita bisa menjadi individu yang lebih waspada. Kelak, jika kita melihat janji keuntungan yang too good to be true, mari kita berhenti sejenak dan berpikir kritis. Sebab sejarah telah membuktikan tanpa keraguan: ketika sebuah pesta finansial terasa terlalu mudah dan meriah, tagihan yang datang di akhir acara biasanya akan sangat, sangat menyakitkan.